Beberapa waktu yang lampau, tepatnya 14 maret 2009, aku menonton acara pementasan teater SiAnak Fisip Unsoed. Pementasan monolog itu diberi tajuk ‘Nol’. Naskahnya sendiri diadopsi dari naskah buatan Putu Wijaya.
Acaranya terbilang menarik. Ya, meskipun masih ada cacat teknis yang belum rampung dicarikan solusinya. Namun, tetap saja menarik, kalau aku bilang. Contohnya saja, keberadaan lagu bernuasa hip-hop dalam pementasan itu. Keberadaannya telah menjadi daya pikat tersendiri. Aku sih tak tahu betul kenapa lagu seperti itu yang digunakan untuk menyampaikan pesan. Tapi mungkin, sekali lagi mungkin, itu dilakukan sebagai sebuah kritikan pada para pemuda, khususnya penonton malam itu, yang lebih menyukai lagu semacam itu, ketimbang lagu-lagu bercita rasa indonesia. Atau lebih jauh lagi kritik atas kehidupan pemuda yang sudah terlanjur hedon. Bukankah, sudah seperti rahasia umum, kalau hedonisme telah menjadi semacam pilihan hidup bagi para pemuda bangsa ini? Atau jangan-jangan malah telah menjadi sebuah ideologi?
Itu baru soal teknis. Tapi buat aku pribadi, yang paling menarik dari pementasan malam itu adalah temanya. Cinta! Ya itulah tema yang diangkat. Dalam sebuah perjalanan hidup, tema cinta memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Buktinya, dapat kita lihat dari sinetron, film, bahkan dari iklan sms reg spasi cinta. Aduh-aduh….
”Cinta itu bukan tujuan! Bukan cita-cita! Melainkan alat,” begitu kira-kira kata sang aktor. Lebih jauh lagi, aktor itu menyebut cinta sebagai sebuah alat untuk melegitimasi manusia untuk menindas manusia yang lain. Expoloitation de l’homme par l’homme. Kata itu, pasti akan membuat kening kita berkerut. Tentu saja sebagai tanda tak sepakat. Karena selama ini, kita semua selalu menganggap cinta adalah sebuah nilai luhur dan tulus yang berasal dari hati yang paling dalam.
Tapi, jika kita cermati cinta lebih dalam dan terbuka, maka kita justru akan lebih mudah melihat sisi gelap mengenai cinta. Misalnya saja dalam hubungan pacaran. Tanpa kita sadari dalam relasi pacaran, sering terjadi penindasan satu sama lainnya. Mudahnya seperti ini, terkadang si cewek melarang pacarnya untuk bermain dengan teman-temannya, dan diharuskan menemani dan membayari belanjaannya. Mengantar pulang pergi si doi, layaknya tukang ojek. Dan juga membayari makan tiap kali jalan berdua. Yang lebih parah, jika dalam berpacaran susah dibumbui dengan adegan kekerasan.Hal ini sebetulnya adalah sebuah penindasan satu orang atas lainnya. Padahal baru pacaran, bagaimana kalau sudah berkeluarga ya?
Ironisnya kita tak pernah menganggap semua itu sebagai penindasan. Padahal tampak jelas, dalam hubungan semacam itu tak ada kesetaraan. Kita malah selalu membentengi diri dengan berkata, ”inilah cinta bung. Butuh pengorbanan.”. Apalagi buat orang yang sedang dibuat mabuk kepayang oleh cinta. Gara-gara cinta, tai kucing pun terasa coklat.
Namun, muncul sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, jika cinta itu tulus, suci, dan sebuah berkah dari Tuhan, mengapa cinta membutuhkan sebuah pengorbanan lebih sering menerabas nilai-nilai kemanusiaan? Pantas saja D’massiv berkata cinta ini membunuhku.
Sebenarnya, tak hanya dalam pacaran saja kita dapat melihat penindasan atas nama cinta. Misalnya, atas nama cinta dengan agama, kita dengan entengnya menyebut orang lain kafir, lalu menyerangnya dengan menggila, tak perduli dengan nasib orang yang diserang itu. Terus, atas nama cinta pada pada persahabatan, kita dengan ikhlas mengroyok orang lain. Atau, atas nama cinta kepada kemanusiaan, Amerika Serikat dan Israel malah dengan pongahnya mengobrak-abrik tatanan negara lain, hingga berjuta nyawa tak bersalah melayang percuma.
Jika keadaannya seperti ini, masih adakah cinta itu suci? Entahlah….