Republik Mimpi; Bermimpi Demokrasi

Suatu waktu, saya berkesempatan menghadiri proses produksi program acara ‘Republik Mimpi’. Acara ini tayang di ANTV. Waktu akan ke sana sih, kalau boleh jujur, saya senang dan antusias. Bagaimana tidak bisa belajar berdemokrasi di televisi. Dan sekaligus juga nongol di acara tersebut.

Setibanya di studio produksi acara tersebut. Saya masih cukup senang. Seakan cukup mampu menghapuskan rasa capek yang dirasa selama perjalanan menuju studio tersebut. Apalagi, waktu itu bisa ketemu dengan para pengisi acara tersebut. Macam; Effendi Ghazali, Butet Kertarajasa, Ginanjar dan banyak lagi artis-artis yang lainnya. Inikah kaum-kaum yang selalu dielu-elukan dan pada saat bersamaan juga diirikan oleh banyak orang di Indonesia, pikir saya saat itu. Kekayaan dan popularitas dalam genggaman.

Terlebih lagi saat melihat Gus Dur, Yusril Izha Mahendra, Sutrisno Bachir, dan Muhaimin Iskandar. Merekalah yang katanya bakal berebut kursi tahun 2009 kelak. Ah, benarkah ditangan mereka itu, kendali bangsa ini dijalankan?

Tapi, nyatanya kesenangan itu hanya bertahan. Sisanya hanya memunculkan banyak tanda tanya yang belum saya dapatkan jawabannya.

***

Sejenak mata ini tertegun. Rupanya saya kaget. Padahal selang beberapa menit sebelumnya, saya tak merasakanya. Tadinya saya menganggap orang-orang yang di sekeliling saya itu adalah hal biasa. Mereka sama seperti saya, sedang beruntung bisa menyaksikan, atau lebih tepatnya ikut ambil peran dalam produksi acara yang digawangi oleh Effendi Ghazali itu.
Namun, sekali lagi, itu awalnya. Setelah celingukan beberapa saat, saya malah merasa miris. Mengerutkan dahi saya sendiri. Lho kok malah kayak gini?

Bagaimana tidak merasa miris, orang-orang yang berada di sekitar saya itu, yang ternyata adalah sekelompok mahasiswa itu nasibnya tak ubahnya orang yang sedang mengantri LPG yang tak kunjung datang. Para mahasiswa itu tampak sangat capek. Muka mereka pun lusuh benar. Mereka duduk-duduk di berbagai tempat yang dapat mereka duduki. Ada yang dilantai, ada yang duduk di sofa rusak, dan ada yang berseliweran tak jelas.

Namun, lihatlah saat para mahasiswa itu ‘dipanggil’ untuk mengisi bangku-bangku di studio shooting Republik Mimpi. Muka lusuh itu, mereka tanggalkan. Wajah-wajah telah berubah jadi tampan dan juga cantik. Jaket almamater kampus masing-masing sudah dikenakan. Mereka telah siap menjadi bagian dari show. Malam itu pukul delapan malam.

Mau bagaimana lagi, ternyata mentalitas semacam itulah yang sedang ngetren dikalang mahasiswa. Cekatan dalam mempersolek diri. Tapi, seribu tanda tanya untuk isi otak mereka.

Sayangnya keganjilan yang saya rasakan tak berhenti sampai di situ. Malah terasa menyakitkan saja. Sebab belum lama masuk, dan duduk di sebelah kanan-kiri panggung, saya dan kawan-kawan mahasiswa mendapat ’instruksi’ dari pengarah acara. Para mahasiswa, termasuk saya, disuruh untuk keprok-keprok. Kemudian diajari bagaimana berteriak ’Baru Bisa Mimpi’. Anehnya, semua itu dilakukan dengan senang hati dan raut muka yang sumringah.

Tak hanya sampai di situ saja, ternyata kami disetting untuk memihak salah satu kubu ’bintang’ malam itu. Kebetulan kelompok saya disuruh berpihak pada Sutrisno Bachir yang dikenal lewat jargon ’hidup adalah perbuatan’ itu. Dengan cara menyanyikan lagu-lagu yang seolah mendukung Mas Tris. Sementara itu kelompok mahasiswa yang lainnya, berpihak pada Muhaimin Iskandar. Untunglah kelompok kami bisa menolaknya. Pun begitu juga dengan papan-papan dukungan, kami berhasil menyingkirkannya. Alasannya, ini tentang independensi!

Namun, beda dengan kawan mahasiswa yang nota benenya kuliah di kota metropolitan kami yang’diseberang’ itu. Mereka masih menenteng papan dukungan itu, dengan santainya. Entah apa yang ada diotak mereka itu.

Saya ingat betul kala ada sesi pertanyaan dari mahasiswa, ternyata pertanyaannya telah diatur terlebih dahulu. Malah boleh dibilang itu dibuat oleh Effendi sendiri. Yang tersirat, semua itu agar acara bisa berjalan lancar. Tapi bolehkah hal semacam itu dibenarkan? Imaji mengenai acara yang penuh dengan nilai-nilai demokrasi luntur sudah. Ternyata acara yang selalu dianggap sebagai guru dari berdemokratisasi, justru mengebiri nilai-nilai berdemokrasi itu sendiri.

Hingga pengambilan gambar ’Republik Mimpi’ malam itu selesai, tak banyak kegembaraan yang saya dapatkan. Meski saya ternyata terlihat jelas di layar televisi,- tentu jika dibandingkan dengan kawan-kawan saya yang lainnya. Saya justru merasa malu. Karena telah muncul di televisi dalam keadaan seperti itu.

Saya pun jadi memaklumi,- dan bertambah malu, saat teman saya dikampus bilang, ”adoh-adoh maring Jakarta, mung kon keprok-keprok karo mangap-mangap ra jelas thok,” kata teman saya itu. Jauh-jauh ke Jakarta cuma disuruh tepuk tangan sama teriak-teriak nggak jelas doank.

Malam semakin larut. Sesi pengambilan gambar sudah rampung. Namun, kawan-kawan saya itu langsung sigap mendekati para pengisi acara malam itu. Ada yang minta foto bareng, tapi ada juga yang ngobrol ngalor-ngidul sembari berharap kartu nama dan nomor telepon. Mereka sama sekali tak tampak kelelahan.

Kawan-kawan saya itu bener-benar pandai berbicara. Saya saja hanya mampu memandangi mereka, sambil terkagum-kagum. Mereka tampak seperti pelobi politik yang handal. Soalnya saya tak pantas menyebut mereka malam itu sedang menjadi penjilat handal. Ya mereka itu pelobi handal.

***

Tak tahu kenapa rasanya pengalaman shooting Republik Mimpi tak begitu menyenangkan. Mungkin salah saya juga yang terlalu berharap berlebihan. Terlalu tinggi. Cara berdemokratisasi yang dulu saya kagumi dari acara ini, tak saya temukan. Yang ada justru; manipulasi, kebohongan, dan juga pembodohan.

Atau mungkin lantaran acara ini bertajuk ‘Republik Mimpi’ jadi semua yang ada disalam acara itu juga adalah mimpi. Begitu pun dengan demokrasi yang dibawanya. Ah, jangan-jangan demokrasi itu sendirilah yang merupakan sebuah mimpi. Yang adanya cuma ada diangan-angan. Bukan kenyataan!

Kereta api bisnis itu sampai di Purwokerto sore hari. Lelah, letih, senang, dan getir bercampur jadi satu. Inilah perjalanan yang sarat pengalaman. Tak semuanya mengecewakan memang, karena ada juga saat-saat yang menggembirakan. Terutama saat bisa bersua dengan kawan-kawan dari berbagai daerah di jawa ini. Mungkin juga itulah satu hal yang paling mengesankan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.