Surat Untuk Marlina

Posted in coret moret on Maret 2, 2010 by rangerbiru

hi imoet…

mungkin kamu bakalan kaget saat surat ini benar-benar udah ada di tanganmu. surat yang mungkin nggak bakalan pernah diharapin kamu sepanjang hidupmu. mungkin lantaran aku yang membikin surat ini. mungkin juga karena ini adalah surat. sebuah lembaran-lembaran yang sekarang udah nggak jamannya lagi.

aku pun ragu saat menuliskan surat ini. mungkin lebih tepatnya lagi takut. yah, takut, nanti, setelah benar-benar surat ini udah kamu baca, sikapmu bakalan berubah padaku. tapi, aku memilih memberanikan diri. aku lebih ingin menjadi ‘binatang jalang’, meski nanti terluka akan tetap menerjang.

maka itu, aku meminta sedikit waktumu untuk membaca surat ini. walau bahasanya tak seromantis apa yang terlintas di benakmu. apalagi mendayu-dayu.

marlina. apakah kamu tahu kabar macam apa yang aku dengar tentangmu? kata mereka kamu telah berubah. kamu udah jadi sesosok marlina yang berbeda. bukan ragamu. tapi, sikap yang kamu tunjukan. kata mereka kamu udah begitu terbuka, begitu romantis, dan begitu-begitu yang lainnya. mulanya, aku nggak percaya. dan yang lebih penting lagi, aku nggak tau apa perubahan yang kamu alami itu benar-benar baik untukmu.

aku terperangah. jujur saja. perasaan nggak karuan itu, aku rasain pas aku liat wall fesbukmu. yang mereka katakan ternyata benar. puisi-puisi cinta bertebaran di mana-mana. di status. di catatan pula. di kebingungan yang begitu cepat menderaku itu, aku tau kalau kamu ternyata udah menerima cinta dari hati seorang pria.

tampaknya, pria itu begitu luar biasa. puisi-puisi indah dan kata-kata rayuan pun banyak tercipta untukmu. entah itu gombal, alay, lebay, atau justru dari dalam hati. entahlah. mungkin begitu caranya untuk mengumbar rasa cintanya. sebuah perasaan yang yang terus meledak-ledak dalam hatinya. layaknya seorang yang baru pernah menemukan cintanya. maka itu pula, aku nggak mau menilai perihal apa yang dia lakukan untukmu. toh, aku juga seorang pria.

tapi, yang aku sayangkan. kenapa kamu nggak pernah cerita soal hubungan kalian itu. huft….

saat melihat foto profilmu, aku ingat dengan pacarku semasa SMA, dulu. beberapa waktu lalu, di curhat soal pacarnya. katanya, pacarnya sungguh posesif. dan belakangan pacarnya itu ma\lah mengabaikannya. dan dia hendak bertanya apakah lebih baik putus saja? tentu aku nggak komentar banyak. soalnya, itu hidupnya, cintanya. dan aku bikan dewa cinta.

ah, udah lah. aku tau kamu nggak pernah mau aku bandingkan dengan pacarku semasa SMA, dulu. nggak soal cara berpikir. nggak juga soal kecantikan.

namun, kali ini, nampaknya ada kesamaan diantara kalian berdua. kalian berubah setelah mengenal pria yang kalian damba-damba kala menjelang ke peraduan. yang namanya selalu menghiasi kotak masuk hape kamu dan dia. betul-betul mirip.

tapi, marlina. taukah kamu, aku pun mulai was-was. apakah akhirnya, nasib cintamu akan sama dengannya? aku nggak berani membayangkannya. sungguh.

marlina. tentu kamu ingat (dan kuharap ingat) saat kita duduk di bawah pohon itu. pohon yang di depannya hanya ada hamparan rumput yang bergoyang kecil saat didera angin sepoy-sepoy. nggak semirip tanah lapang milik doraemon. nggak juga seteduh ladang ilalang layaknya setting di film seven pounds.

kita duduk di sana. aku bercerita tentang hidupku. dan kau bercerita soal sisi lain hidupmu. sisi lain yang nggak pernah kamu tampakkan sebelumnya. bercerita tentang beban yang selama ini kamu pendam dalam-dalam dengan canda tawa.

kamu menangis di bawah rindangnya pohon itu. aku hanya terdiam. aku bingung. nggak tau harus gimana. namun, ada satu hal yang pasti, ada semacam janji kecil di benak ini. aku nggak bakal melihat air itu mengalir lagi dari sudut matamu. untuk yang kedua kali. atau yang keselanjutnya.

pun begitu soal cintamu. semoga masa bulan madumu nggak cuma berumur bulanan aja. terlepas dari baik atau tidaknya pria itu untukmu. sebab seperti yang aku bilang, aku juga seorang pria.

marlina. sebenarnya aku enggan mengakhiri surat ini dengan sebuah diktean soal hidup, soal urusan cintamu. maka itu jangan anggap aku sedang mengguruimu. anggap aja ini sebagai sebuah harapan kecil, yang mungkin belum tentu terkabul.

marlina. akan terasa menyesal sekali kalau ternyata lembaran surat ini justru menyakiti hibunganmu dengan pria itu. sungguh, aku nggak pernah bermaksud begitu. dan aku pun tau kamu nggak bakal menanggapi surat ini secara berlebihan. apalagi negatif sifatnya. bukankah kita udah sama-sama dewasa.

marlina, temanku. betapa berat aku mengakhiri surat ini. beratnya setara dengan saat aku menyapamu dengan kata “hi imoet…”. sungguh berat.

marlina. terima kasih udah meluangkan sedikit waktumu untuk membaca surat ini. nggak perlu kamu balas surat ini dengan surat yang lainnya. cukup bantu aku dengan mewujudkan janki kecilku itu. dan, seandainya, janji kecilku nggak terwujud. aku pun masih selalu jadi temanmu. tentu begitu kan?

terima kasih marlina. salam hangat untuk hatimu.

.Tanpo Aran.
salam.

Iklan

sms dari mbayu malam itu

Posted in Uncategorized with tags on Februari 8, 2010 by rangerbiru

“Duh pusinq y,q mw ambl bhs jwa mz,kra2 blpa y mz byr q biz ancnq2 dal ckg.” sms itu aku terima tepat pukul 20:37:35. tepatnya tangal 5 februari kemarin.

sms itu dikirim oleh seorang teman perempuanku semasa SMA dulu. aku kerap memanggilnya mbayu. sudah lama memang aku nggak pernah ngobrol dengannya. baru beberapa bulan ini aku sering smsan dengannya. dia sekarang sudah bekerja jadi staff administrasi di sebuah pabrik di bandung.

beberapa waktu yang lalu, dia cerita kalo punya niatan buat sekolah lagi. ingin kuliah. “gila” itulah kata yang pertama terpikirkan diotakku. aku udah hampir jadi sarjana, nah dia, baru punya niatan pengen kuliah. jujur aja, aku kaget!

dia pun bercerita kalo selama ini dia itu iri dengan teman seumurannya yang mampu menikmati bangku kuliah. makanya, dia masih memendam cita-cita menjadi seorang sarjana. dia pingin jadi guru!

demi cita-citanya itulah, dia akhirnya rela jauh dari keluarga buat kerja di kota kembang. bekerja keras demi mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya. sedikit demi sedikit.

makanya, meski sempet kaget, aku masih ngerasain seneng. sebuah kebanggaan, tentu. sementara aku di purwokerto sering ngeliat orang-orang yang katanya udah jadi mahasiswa kuliah seenaknya dan asal-asalan. temanku itu justru bersemangat buat kuliah.

“tolong cariin informasinya ya mz…” begitu katanya suatu waktu. dia hendak pulang ke desanya, untuk bekerja di sana, sambil kuliah.

dengan penuh semangat aku pun mencari universitas yang punya program keguruan. ketemu! ada satu, tapi swasta. aku pun langsung kesana, ngambil pamflet di ruangan panitia PMB.

busyet!! mahal bener kuliah di kampus ini, kataku pas ngeliat isi brosur pembiayaan. huh…apa mbayu itu bisa membayarkan semua pembiayaan ini. aku cuma bisa ngelus dada. serasa nggak tega memupupuskan impiannya itu. “argh…sial,” kataku dalam hati.

tapi, akhirnya aku beranikan diri menceritakan semuanya. pembiayaannya dan tentu saja program studi yang ditawarkan.

dan, ternyata benar, uang yang dia tabung lebih dari tiga tahun ini belum juga cukup. meski hanya sekedar membayar awalannya aja. itu yang program reguler, belum yang nonreguler. lagi-lagi cita-citanya kembali terancam pupus sudah.

sejujurnya, aku malu sendiri. aku yang kuliah sampe sejauh ini aja masih belum berpikir layaknya apa yang dia pikirkan. mahasiswa amacam apa aku ini. yang katanya agen of change, tapi membantu teman sendiri aja nggak mampu.

“Huh..Q kul pie y maz?Mas biaya gde teing,q bngung mw nyari dar mana ge?” katanya lewat sms.

Penindasan Atas Nama Cinta

Posted in sekilas on Maret 17, 2009 by rangerbiru

Beberapa waktu yang lampau, tepatnya 14 maret 2009, aku menonton acara pementasan teater SiAnak Fisip Unsoed. Pementasan monolog itu diberi tajuk ‘Nol’. Naskahnya sendiri diadopsi dari naskah buatan Putu Wijaya.

Acaranya terbilang menarik. Ya, meskipun masih ada cacat teknis yang belum rampung dicarikan solusinya. Namun, tetap saja menarik, kalau aku bilang. Contohnya saja, keberadaan lagu bernuasa hip-hop dalam pementasan itu. Keberadaannya telah menjadi daya pikat tersendiri. Aku sih tak tahu betul kenapa lagu seperti itu yang digunakan untuk menyampaikan pesan. Tapi mungkin, sekali lagi mungkin, itu dilakukan sebagai sebuah kritikan pada para pemuda, khususnya penonton malam itu, yang lebih menyukai lagu semacam itu, ketimbang lagu-lagu bercita rasa indonesia. Atau lebih jauh lagi kritik atas kehidupan pemuda yang sudah terlanjur hedon. Bukankah, sudah seperti rahasia umum, kalau hedonisme telah menjadi semacam pilihan hidup bagi para pemuda bangsa ini? Atau jangan-jangan malah telah menjadi sebuah ideologi?

Itu baru soal teknis. Tapi buat aku pribadi, yang paling menarik dari pementasan malam itu adalah temanya. Cinta! Ya itulah tema yang diangkat. Dalam sebuah perjalanan hidup, tema cinta memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Buktinya, dapat kita lihat dari sinetron, film, bahkan dari iklan sms reg spasi cinta. Aduh-aduh….

”Cinta itu bukan tujuan! Bukan cita-cita! Melainkan alat,” begitu kira-kira kata sang aktor. Lebih jauh lagi, aktor itu menyebut cinta sebagai sebuah alat untuk melegitimasi manusia untuk menindas manusia yang lain. Expoloitation de l’homme par l’homme. Kata itu, pasti akan membuat kening kita berkerut. Tentu saja sebagai tanda tak sepakat. Karena selama ini, kita semua selalu menganggap cinta adalah sebuah nilai luhur dan tulus yang berasal dari hati yang paling dalam.

Tapi, jika kita cermati cinta lebih dalam dan terbuka, maka kita justru akan lebih mudah melihat sisi gelap mengenai cinta. Misalnya saja dalam hubungan pacaran. Tanpa kita sadari dalam relasi pacaran, sering terjadi penindasan satu sama lainnya. Mudahnya seperti ini, terkadang si cewek melarang pacarnya untuk bermain dengan teman-temannya, dan diharuskan menemani dan membayari belanjaannya. Mengantar pulang pergi si doi, layaknya tukang ojek. Dan juga membayari makan tiap kali jalan berdua. Yang lebih parah, jika dalam berpacaran susah dibumbui dengan adegan kekerasan.Hal ini sebetulnya adalah sebuah penindasan satu orang atas lainnya. Padahal baru pacaran, bagaimana kalau sudah berkeluarga ya?

Ironisnya kita tak pernah menganggap semua itu sebagai penindasan. Padahal tampak jelas, dalam hubungan semacam itu tak ada kesetaraan. Kita malah selalu membentengi diri dengan berkata, ”inilah cinta bung. Butuh pengorbanan.”. Apalagi buat orang yang sedang dibuat mabuk kepayang oleh cinta. Gara-gara cinta, tai kucing pun terasa coklat.

Namun, muncul sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, jika cinta itu tulus, suci, dan sebuah berkah dari Tuhan, mengapa cinta membutuhkan sebuah pengorbanan lebih sering menerabas nilai-nilai kemanusiaan? Pantas saja D’massiv berkata cinta ini membunuhku.

Sebenarnya, tak hanya dalam pacaran saja kita dapat melihat penindasan atas nama cinta. Misalnya, atas nama cinta dengan agama, kita dengan entengnya menyebut orang lain kafir, lalu menyerangnya dengan menggila, tak perduli dengan nasib orang yang diserang itu. Terus, atas nama cinta pada pada persahabatan, kita dengan ikhlas mengroyok orang lain. Atau, atas nama cinta kepada kemanusiaan, Amerika Serikat dan Israel malah dengan pongahnya mengobrak-abrik tatanan negara lain, hingga berjuta nyawa tak bersalah melayang percuma.

Jika keadaannya seperti ini, masih adakah cinta itu suci? Entahlah….

Nada Minor Lagu-Lagu Indonesia

Posted in sekilas on Desember 18, 2008 by rangerbiru

Perkembangan musik Indonesia tampaknya memang sedang bagus. Munculnya program acara musik di televisi maupun radio kiranya bisa menjadi bukti pesatnya perkembangan musik dalam negeri ini. Dari sanalah bermunculan berbagai grup band dalam berbagai nama dan genre musik, tentu. Dari minggu ke minggu ada saja band baru menghiasi program-program acara musik tersebut.

Bahkan lagu-lagu buatan anak negeri ini, berhasil ’menjajah’ industri musik negeri tetangga, malaysia. Telinga orang-orang malaysia itu dibuat asik mendengarkan lagu Indonesia. Lagu-lagu buatan Indonesia malahan hampir selalu bercokol di chart teratas tangga lagu yang paling sering direquest. Lagu asli malaysia pun otomatis tergusur. Sampai-sampai keadaan ini, membuat gerah sebagian orang malaysia yang lainnya. Lagu-lagu ’kiriman’ Indonesia pun dicekal.

Mungkin ini pulalah yang menjadikan lagu ’rasa sayange’ asli ambon itu diklaim jadi milik malaysia. Orang malaysia kadung jatuh cinta dengan hasil karya seni made in Indonesia. Hal ini agaknya berlaku juga pada banyak hal kepunyaan Indonesia yang sudah duluan diklaim.

Itu kalau berbicara mengenai ‘kegagahan-kegagahan’ musik Indonesia. Sebab di antara kegarangan musik-musik Indonesia masih banyak polemik yang mungkin juga bisa mencoreng muka industri musik Indonesia. Indikasi penyontekan ataupun penjiplakan lagu, bisa jadi cermin kusam kreatifitas musik negeri ini yang sering jadi bahan obrolan. Bukankah tanpa disadari acapkali terucap kata “lho kok nada lagunya mirip lagu yang itu ya?” saat mendengarkan sebuah lagu. Memang dalam hal ini kreatifitas musikal musisilah yang menjadi pangkal permasalahan. Kenapa bisa mereka itu bisa melakukan hal tersebut.

Ngomong-ngomong soal ketumpulan kreatifitas musikal lagu-lagu Indonesia, dapat dilihat dari tema-tema yang diangkat pada lagu-lagu yang sedang in saat ini. Jika diamati betul, tema yang akan muncul adalah melulu soal cinta. Diakui atau tidak seperti itulah keadaannya. Lagu Indonesia tak jauh dari cinta dan tetek mbengeknya. Ada yang tentang jatuh cinta, patah hati, dan ada juga yang tentang selingkuh.

Menariknya lagu-lagu bertemakan cinta semacam itulah yang paling diminati serta menguasai tangga lagu teratas di berbagai program acara musik. Sampai jadi soundtrack sinetron atau paling tidak FTV. Bahkan seakan latah, berbagai grup band baru dapat dipastikan menempuh jalan cinta untuk mengantarkan pada sebuah popularitas.

Sekilas memang tak ada masalah. Tapi, lihatlah secara seksama efek yang ditimbulkan dari lagu yang cinta melulu itu. Gara-gara tema lagu yang monoton itu, kreatifitas musikal musisi Indonesia hanya berkutat pada tema itu-itu thok. Seakan hanya tema cinta sajalah yang dapat digali dan dikembangkan. Sementara tema-tema yang lainnya tidaklah menarik.

Lebih jauh lagi, lagu-lagu bertemakan cinta itu bisa membius para penikmat musik untuk hidup di dunia yang tidak realistis. Sebuah dunia yang cuma ada cinta, rindu, patah hati, selingkuh, dan juga tangisan. Pada akhirnya, hal tersebut bisa mempengaruhi mentalitas para penikmat musik. Mereka pikir cinta adalah segala. Number one and only.

Dampak semacam itu, belum lagi dihitung dengan efek samping lagu-lagu Indonesia yang lainnya. Masih ada dampak tentang pelabelan. Malah nampaknya lebih menjurus pada permasalahan bias gender. Tentu masih segar diingatan lagu yang berjudul ‘ular berbisa’ milik Hallo band itu. Sepintas lagu yang naga-naganya mirip dengan Marron 5 itu enak didengar. Sampai ada yang bilang “aku banget”.

Namun, dengarlah baik-baik liriknya. Dari situ akan diketahui kalau para perempuan telah digambarkan sebagai kaum penipu, penjerat, serta penjebak. Sampai dianalogikan sebagai ular berbisa. Mungkin untuk hal ini kaum hawa pantas marah dan tersinggung.

Hallo band tentu hanya salah satu dari sekian banyak band yang melakukan pengukuhan stereotipe negatif pada perempuan. Lagi-lagi berbicara gender tak perlu melihat seberapa lebam atau berderai air matanya akibat kekerasan berbasis gender. Lagu bertemakan cinta di Indonesia telah menujukan kalau masyarakat, khususnya musisi, belum juga mengatasi problematika bias gender.

Seperti itulah lagu-lagu indonesia sesungguhnya. Kepesatan perkembangan industri musik, tapi bersamaan dengannya pula, musikalitas pun mulai berkarat. Kemandekan kreatifitas. Lagu-lagu bertemakan cinta melulu telah menjadi bukti kuatnya.

Otak bisnis industri musik telah membabat habis kreatifitas para musisi dalam negeri. Pun demikian dengan idealisme mereka itu. Atau jangan-jangan itulah idealisme mereka? Para musisi itu tampaknya ogah ambil pusing dengan semua itu. Yang penting berjuta kopi lagu terjual. Uang masuk ke kantong. Popularitas pun ditangan.

Akhirnya, nada minor lagu-lagu buatan orang indonesia itu terus mengalun. Padahal tak jarang lagu-lagu itu terdengar sumbang. Tapi, semua orang menikmatinya betul. Apa karena kuping melayu, jadi lebih suka dengan lagu-lagu yang terdengar mendayu-dayu.

Republik Mimpi; Bermimpi Demokrasi

Posted in sekilas on Desember 18, 2008 by rangerbiru

Suatu waktu, saya berkesempatan menghadiri proses produksi program acara ‘Republik Mimpi’. Acara ini tayang di ANTV. Waktu akan ke sana sih, kalau boleh jujur, saya senang dan antusias. Bagaimana tidak bisa belajar berdemokrasi di televisi. Dan sekaligus juga nongol di acara tersebut.

Setibanya di studio produksi acara tersebut. Saya masih cukup senang. Seakan cukup mampu menghapuskan rasa capek yang dirasa selama perjalanan menuju studio tersebut. Apalagi, waktu itu bisa ketemu dengan para pengisi acara tersebut. Macam; Effendi Ghazali, Butet Kertarajasa, Ginanjar dan banyak lagi artis-artis yang lainnya. Inikah kaum-kaum yang selalu dielu-elukan dan pada saat bersamaan juga diirikan oleh banyak orang di Indonesia, pikir saya saat itu. Kekayaan dan popularitas dalam genggaman.

Terlebih lagi saat melihat Gus Dur, Yusril Izha Mahendra, Sutrisno Bachir, dan Muhaimin Iskandar. Merekalah yang katanya bakal berebut kursi tahun 2009 kelak. Ah, benarkah ditangan mereka itu, kendali bangsa ini dijalankan?

Tapi, nyatanya kesenangan itu hanya bertahan. Sisanya hanya memunculkan banyak tanda tanya yang belum saya dapatkan jawabannya.

***

Sejenak mata ini tertegun. Rupanya saya kaget. Padahal selang beberapa menit sebelumnya, saya tak merasakanya. Tadinya saya menganggap orang-orang yang di sekeliling saya itu adalah hal biasa. Mereka sama seperti saya, sedang beruntung bisa menyaksikan, atau lebih tepatnya ikut ambil peran dalam produksi acara yang digawangi oleh Effendi Ghazali itu.
Namun, sekali lagi, itu awalnya. Setelah celingukan beberapa saat, saya malah merasa miris. Mengerutkan dahi saya sendiri. Lho kok malah kayak gini?

Bagaimana tidak merasa miris, orang-orang yang berada di sekitar saya itu, yang ternyata adalah sekelompok mahasiswa itu nasibnya tak ubahnya orang yang sedang mengantri LPG yang tak kunjung datang. Para mahasiswa itu tampak sangat capek. Muka mereka pun lusuh benar. Mereka duduk-duduk di berbagai tempat yang dapat mereka duduki. Ada yang dilantai, ada yang duduk di sofa rusak, dan ada yang berseliweran tak jelas.

Namun, lihatlah saat para mahasiswa itu ‘dipanggil’ untuk mengisi bangku-bangku di studio shooting Republik Mimpi. Muka lusuh itu, mereka tanggalkan. Wajah-wajah telah berubah jadi tampan dan juga cantik. Jaket almamater kampus masing-masing sudah dikenakan. Mereka telah siap menjadi bagian dari show. Malam itu pukul delapan malam.

Mau bagaimana lagi, ternyata mentalitas semacam itulah yang sedang ngetren dikalang mahasiswa. Cekatan dalam mempersolek diri. Tapi, seribu tanda tanya untuk isi otak mereka.

Sayangnya keganjilan yang saya rasakan tak berhenti sampai di situ. Malah terasa menyakitkan saja. Sebab belum lama masuk, dan duduk di sebelah kanan-kiri panggung, saya dan kawan-kawan mahasiswa mendapat ’instruksi’ dari pengarah acara. Para mahasiswa, termasuk saya, disuruh untuk keprok-keprok. Kemudian diajari bagaimana berteriak ’Baru Bisa Mimpi’. Anehnya, semua itu dilakukan dengan senang hati dan raut muka yang sumringah.

Tak hanya sampai di situ saja, ternyata kami disetting untuk memihak salah satu kubu ’bintang’ malam itu. Kebetulan kelompok saya disuruh berpihak pada Sutrisno Bachir yang dikenal lewat jargon ’hidup adalah perbuatan’ itu. Dengan cara menyanyikan lagu-lagu yang seolah mendukung Mas Tris. Sementara itu kelompok mahasiswa yang lainnya, berpihak pada Muhaimin Iskandar. Untunglah kelompok kami bisa menolaknya. Pun begitu juga dengan papan-papan dukungan, kami berhasil menyingkirkannya. Alasannya, ini tentang independensi!

Namun, beda dengan kawan mahasiswa yang nota benenya kuliah di kota metropolitan kami yang’diseberang’ itu. Mereka masih menenteng papan dukungan itu, dengan santainya. Entah apa yang ada diotak mereka itu.

Saya ingat betul kala ada sesi pertanyaan dari mahasiswa, ternyata pertanyaannya telah diatur terlebih dahulu. Malah boleh dibilang itu dibuat oleh Effendi sendiri. Yang tersirat, semua itu agar acara bisa berjalan lancar. Tapi bolehkah hal semacam itu dibenarkan? Imaji mengenai acara yang penuh dengan nilai-nilai demokrasi luntur sudah. Ternyata acara yang selalu dianggap sebagai guru dari berdemokratisasi, justru mengebiri nilai-nilai berdemokrasi itu sendiri.

Hingga pengambilan gambar ’Republik Mimpi’ malam itu selesai, tak banyak kegembaraan yang saya dapatkan. Meski saya ternyata terlihat jelas di layar televisi,- tentu jika dibandingkan dengan kawan-kawan saya yang lainnya. Saya justru merasa malu. Karena telah muncul di televisi dalam keadaan seperti itu.

Saya pun jadi memaklumi,- dan bertambah malu, saat teman saya dikampus bilang, ”adoh-adoh maring Jakarta, mung kon keprok-keprok karo mangap-mangap ra jelas thok,” kata teman saya itu. Jauh-jauh ke Jakarta cuma disuruh tepuk tangan sama teriak-teriak nggak jelas doank.

Malam semakin larut. Sesi pengambilan gambar sudah rampung. Namun, kawan-kawan saya itu langsung sigap mendekati para pengisi acara malam itu. Ada yang minta foto bareng, tapi ada juga yang ngobrol ngalor-ngidul sembari berharap kartu nama dan nomor telepon. Mereka sama sekali tak tampak kelelahan.

Kawan-kawan saya itu bener-benar pandai berbicara. Saya saja hanya mampu memandangi mereka, sambil terkagum-kagum. Mereka tampak seperti pelobi politik yang handal. Soalnya saya tak pantas menyebut mereka malam itu sedang menjadi penjilat handal. Ya mereka itu pelobi handal.

***

Tak tahu kenapa rasanya pengalaman shooting Republik Mimpi tak begitu menyenangkan. Mungkin salah saya juga yang terlalu berharap berlebihan. Terlalu tinggi. Cara berdemokratisasi yang dulu saya kagumi dari acara ini, tak saya temukan. Yang ada justru; manipulasi, kebohongan, dan juga pembodohan.

Atau mungkin lantaran acara ini bertajuk ‘Republik Mimpi’ jadi semua yang ada disalam acara itu juga adalah mimpi. Begitu pun dengan demokrasi yang dibawanya. Ah, jangan-jangan demokrasi itu sendirilah yang merupakan sebuah mimpi. Yang adanya cuma ada diangan-angan. Bukan kenyataan!

Kereta api bisnis itu sampai di Purwokerto sore hari. Lelah, letih, senang, dan getir bercampur jadi satu. Inilah perjalanan yang sarat pengalaman. Tak semuanya mengecewakan memang, karena ada juga saat-saat yang menggembirakan. Terutama saat bisa bersua dengan kawan-kawan dari berbagai daerah di jawa ini. Mungkin juga itulah satu hal yang paling mengesankan.

Aku (Ogah) Jadi Anak Indonesia!

Posted in sekilas on Desember 18, 2008 by rangerbiru

Tuhan,
Jika aku diperkenankan memilih dilahirkan di mana, maka aku memohon kepada-Mu, jangan pernah lahirkan aku di bumi nusantara ini. Karena hal yang paling kau sesali di dunia ini adalah saat aku di sebut sebagai anak Indonesia!

Suatu malam di kota yang ramai, dua orang anak perempuan duduk asik di depan meja makan sebuah restoran ternama di kota ”resik” tersebut. Anak-anak perempuan yang berusia tak sampai sepuluh tahun, yang satu memakai jilbab sedangkan yang satunya berpakaian ala kadarnya. Di depan kedua anak-anak itu tersedia satu porsi makanan berlauk ayam goreng dan satu gelas jus jeruk dingin nan menyegarkan.

Ujuk-ujuk seorang pelayan restoran itu datang menghampiri kedua anak perempuan yang berpenampilan lusuh tersebut. ”Ayahnya mana, De?”, tanya pelayan laki-laki itu. Namun, agaknya pertanyaan tersebut tak kunjung mendapatkan jawaban dari Si anak. Entah karena tidak mendengar pertanyaan tersebut, entah tidak mau ambil pusing dengan pertanyaan tersebut. Ya, anak-anak tersebut justru terus menikmati makanan dan minuman yang begitu mengugah selera. Benar-benar tak perduli dengan orang-orang di sekitarnya.

Seketika itu pula, makanan dan minuman di atas meja putih memanjang itu pun ludes, hanya menyisakan sedikit gumpalan nasi. Tidak begitu lama waktu berselang, mereka pun beranjak pergi dari meja restoran tersebut. ”Ah, kenyang!”. Mungkin kata-kata itulah yang ada di benak mereka.

Sambil melangkah pergi, mereka pun langsung mengambil sebuah tumpukan kertas yang berada di pojok meja tersebut. Mereka pergi dengan menenteng tumpukan koran bertuliskan ”Radar Tasikmalaya”. Gila!! Ternyata kedua anak tersebut adalah seorang loper koran.

Apa-apaan yang meraka lakukan di sana itu? Sementara anak-anak yang lain menikmati kehidupannya selayaknya anak-anak, menonton acara teve favorit, merengek-rengek minta mainan mode terbaru, atau justru mejeng di Mall. Kedua anak perempuan tersebut tak pernah terpikirkan untuk melakukan semua hal tersebut, malah memilih mencari duit demi kelangsungan hidup mereka. Mencari duit demi ”kehidupan” real mereka.

Pemandangan seperti ini mungkin bukanlah hal yang asing bagi bangsa Indonesia. Anak miskin tak sekolah, gizi buruk, human trafficking, ataupun kekerasan sudah menjadi hal yang lumrah bagi generasi masa depan bangsa ini. Kedua anak perempuan tersebut hanyalah sebuah contoh kecil (bahkan sangat kecil) dari beratnya kehidupan anak Indonesia, karena sejatinya masih berjuta-juta anak yang senasib dengan mereka.

Kenapa fenomena seperti ini semakin banyak saja terjadi di Nusantara ini. Bukankah ada Komisi Nasional (Komnas) perlindungan anak, banyak juga menjamur Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) memfokuskan diri pada kehidupan anak-anak, bahkan ada juga UNICEF. Tetapi kenapa masalah anak Indonesia tak kunjung terselesaikan, justru semakin rumit, seperti benang kusut?

Bagaimana pun juga, anak Indonesia tetaplah manusia yang ingin juga dimanusiakan selayaknya manusia dewasa. Mereka seharusnya bisa menikmati kehidupannya seperti halnya anak-anak biasa, bermain, bercanda, bermanja-manja dengan orang tuanya. Bukan justru menjadi tulang punggung keluarga. Menjalani kehidupan sebagai anak-anak pun sebuah hak asasi bagi manusia (baca: anak-anak)!

Hendaknya pula, pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 tidak dimaknai sempit bahwa orang miskin dan anak-anak terlantar “dipelihara” oleh negara. Makna “dipelihara” janganlah disinonimkan dengan kata dikembangbiakkan, ataupun diperbanyak, seperti halnya binatang ternak. Sehingga jumlah kaum miskin dan anak terlantar tidak bertambah banyak.

Kedua anak Tasik tersebut dan tentu saja berjuta anak Indonesia sudah sepantasnya mendapatkan perhatian yang besar dari para intelektual ataupun penggede bangsa yang sudah 62 tahun merdeka ini. Bukan dalam artian dijadikan objek proyekan penelitian ataupun aksi tebar simpati!! Akan tetapi, menjadikan anak-anak Indonesia benar-benar sebagai manusia. Toh, kemerdekaan sebagai manusia bukan melulu milik orang-orang yang dewasa saja!

Lagi pula, masa depan bangsa ini tidak terletak pada orang-orang yang sekarang sudah tua, melainan pada pundak anak yang ngamen di lampu merah, anak yang disiksa oleh orang tuanya, anak yang putus sekolah, ataupun anak-anak kaum borjuis.

Sehingga esok, tidak akan ada seorang anak bumi nusantara ini yang menyesali hidupnya, karena dilahirkan sebagai anak Indonesia.

MEDIASI MEDIA; Bukan (Lagi) Pertanyaan Retoris

Posted in Mass Media on Desember 18, 2008 by rangerbiru

Mediasi seperti apakah yang harus dijalankan oleh media??

Apakah hanya sekedar menyampaikan informasi dari atas ke bawah, ke samping, atau bahkan bawah ke atas??

Bagaimana dengan independensi, objektifitas, dan profesionalisme media??

Perkembangan dunia komunikasi yang tak lagi terbendung, membuat institusi media semakin tumbuh kembang. Kebutuhan manusia akan informasi yang up to date membuat keberadaan media adalah sebuah keniscayaan. Dari media kita sering kali mengetahui mengenai hal-hal yang belum kita ketahui, khususnya menganai lingkungan simbolik yang ada disekitar kita (informasi, gagasan, ide, dan juga kepercayaan). Media juga yang mengaitkan semua unsur lingkungan simbolik itu, sehingga pada kita nantinya akan mempunyai wawasan/pengalaman/persepsi yang sama dengan orang lain, dan akhirnya proses komunikasi berjalan lebih lancar.

Dalam konteks seperti inilah kita akan melihat bahwa media mempunyai sebuah fungsi yang tak dimiliki oleh institusi lain di dalam masyarakat, yaitu fungsi sebagai mediator. Media menjalankan fungsi mediasi antara realitas social yang objektif di dalam masyarakat dengan field of experience yang dimiliki oleh setiap individu. Dalam artian media sebagai sarana bagi kita melakukan kontak dengan pengalaman di luar persepsi kita, melakukan komunikasi dengan institusi tertentu. Sehingga tak jarang kalau kita menganggap bahwa media itu sebagai institusi yang berada di “antara” kita dan orang lain.

Pada kenyataannya pelaksanaan fungsi mediasi media sangatlah beragam tergantung pada tujuan, bentuk kegiatan, dan juga interaktivitasnya. Media sangat banyak mengandung manifestasi kegiatan, mulai dari komunikasi face to face sampai pada bentuk komunikasi tak langsung. Posisi media yang seperti inilah yang membuat media mempunyai fungsi-fungsi yang selalu fluktuatif, selain itu berakibat pada sering sekali muncul pencitraan-pencitraan terhadap media. Seperti, media sebagai juru bahasa, pembawa informasi, jendela pengetahuan, filter atas segala informasi yang ada, dan juga sebagai refleksi atas kehidupan social masyarakat. Pencitraan tersebut lahir bukan hanya karena adanya studi analisis eksternal terhadap institusi media, tetapi juga karena sengaja dibuat oleh media itu sendiri. Oleh karena itulah, pada institusi media sudah melekat sejumlah tanggung jawab untuk pro-aktif melibatkan dirinya dalam interaksi social.

McQuail sendiri sudah mempunyai catatan tersendiri mengenai mediasi. Di sebutkan dalam bukunya tentang diagram mediasi. Di mana digambarkan ada dua lengkungan yang mengapit posisi dari institusi media. Lengkungan pertama yang berada di atas, berisikan mengenai institusi-institusi besar, ideology, dan di dalamnya juga terdapat pusat kekuasaan,-yang mungkin justru akan mencengkram kinerja media itu sendiri. Sedangkan pada lengkungan kedua, kita akan melihat bahwa di sana masyarakat,-yaitu sebagai khalayak dari informasi/pesan yang disampaikan oleh element-element dari lengkungan yang pertama. Lalu di manakah posisi dari media itu sendiri? Media berada diantara kedua lengkungan tersebut. Di posisi itulah media menjalankan fungsi mediasinya, menjadi penengah antara lengkungan pertama dengan audience/masyarakat.

Jadi jelaslah bahwa sebenarnya media seharusnya menjadi alat komunikasi top-down dari kaum elite kepada masyarakat luas. Dan juga sekaligus sebagai sarana komunikasi yang bersifat buttom-up dari bawah ke atas. Sehingga terjadi proses komunikasi yang timbal balik di antara ketiga elemen tersebut di atas. Dengan kata lain akan terjalin hubungan yang sifatnya simbiosis mutualisme.

Pada kenyataannya, posisi yang terlalu dekat dengan institusi yang mempunyai kekuasaan memunculkan permasalahan baru pada media. Media dalam memberikan informasi kurang bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat, akses media hanya bisa di dapatkan oleh golongan-golongan elit saja. Sehingga media tak dapat meng-cover seluruh field of experience untuk meng-efektifkan proses komunikasi dari setiap elemen yang ada di dalam masyarakat. Dan komunikasi yang terjadi cenderung bersifat satu arah dari atas ke bawah, tanpa di barengi dengan usaha timbal balik dari masyarakat bawah. Meskipun terjadi komunikasi timbal balik, itu hanya sebatas “formalitas” belaka. Karena aspirasi dari masyarakat tidak akan diperhatikan oleh kaum-kaum elit.

Selain itu media seakan-akan lepas control dari pengawasan masyarakat, padahal kan media harus bisa diawasi, dikontrol, dan juga dikritik oleh masyarakat sebagai audience mereka sindiri. Yang terjadi justru institusi media seakan-akan menghegemoni pikiran audience mereka dengan menggunakan segala isi pesan yang mereka miliki. Kontak yang berlangsung cenderung dikendalikan dan diarahkan oleh media itu sendiri. Hal ini terjadi oleh beberapa sebab, seperti keadaan khalayak yang tersebar dan juga karena pengaruh kaum kapital yang selalu mempunyai kepentingan.

Keadaan seperti itulah yang memunculkan adanya ketergantungan media terhadap institusi lain, khususnya institusi yang memiliki kekuatan modal, padahal medialah yang harusnya mengontrol mereka. Demikian juga di dalam diri audience mereka, hanya saja mereka mempunyai ketergantungan terhadap media. Sehingga tak ayal jika sebagian masyarakat menganggap bahwa media sebenarnya memang menyediakan saluran yang lebih efektif ke bawah, ketimbang yang ke atas.

Apalagi dengan menilik keadaan sekarang, di mana kaum kapital makin merajalela. Di mana semua institusi,-begitu juga dengan institusi media, sangat mengagung-agungkan modal. Institusi-institusi tersebut bergantung pada para pemodal. Bagi dunia per-mediaan, hal tersebut bisa dikatakan mengancam kebelangsungan posisi media, khususnya mengenai kebebasan pers, objektifitas berita, dan kinerja dari media itu sendiri. Ini dapat dilihat pada bagaimana sebuah media dalam menyampaikan informasi dan sekaligus memediasi komunikasi golongan tertentu dengan masyarakat umum (audience mereka). Saat sebuah informasi itu tidak menguntungkan bagi pemilik media, maka informasi tersebut akan cenderung “dipertimbangkan” lagi untuk bisa terbit. Sehingga media itu tidak bebas dari tindakan represif dalam pemberitaan,-meskipun tak secara tegas terlihat. Jadi intinya sisi idealisme hanya menjadi “sisipan”, dan yang penting adalah permasalahan keuntungan financial media tersebut.

Sehingga pantaslah bagi kita untuk bertanya seperti apakah mediasi yang harus dilakukan oleh sebuah media? Kalau sekedar menyampaikan pesan, menjadi penengah antara kaum elite dengan audience mereka. Itu si sudah dilakukan oleh semua media. Sependek itukah arti sebuah mediasi? Lalu bagaimana dengan sebagian sekelompok kaum bawah, yang justru menjadi penghuni paling banyak dari bangsa ini, yang tak pernah bisa mengakses media massa?? Sedangkan mereka juga ingin bersuara dan menyampaikan semua aspirasi mereka!

Media massa sekarang yang tak bisa diakses semua orang adalah masalah mendasar dari mediasi itu sendiri. Proses mediasi media yang tidak merata dan searah dari atas ke bawah, hanya akan membuat gap yang semakin jauh antara kaum perkotaan yang mengakses media dengan kaum perdesaan yang susah untuk mengakses pemberitaan media massa.

Jadi pertanyaan yang ada bukan lagi, seperti apa itu mediasi oleh media? Tetapi kemudian pertanyaan yang muncul adalah “Sejauh mana keefektifitasan proses mediasi oleh media dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai element tak tergantikan dalam proses interaksi social di masyarakat?”.